SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Nama
: Putri Rahayu
Npm
: 118090076
Sejarah
Awal Perkembangan Sosiologi
Istilah sosiologi berasal dari bahasa latin dan
Yunani. Asal katanya adalah Socius dan
Logos. Socius (bahasa latin) berarti
kawan tetapi dalam arti luas masyarakat. Sementara itu, logos (bahasa yunani)
berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang
mempelajari tentang masyarakat
Auguste Comte : Bapak Sosiologi
Sejarah
Perkembangan Sosiologi di Dunia
Kita mungkin bertanya bagaimana perkembangan
sosiologi hingga mencapai bentuknya hingga sekarang. Sosiologi awalnya menjadi
bagian dari filsafat social. Ilmu ini membahas tentang masyarakat. Namun saat
itu, pembahasan tentang masyarakat hanya berkisar pada hal-hal yang menarik
perhatian umum saja, seperti perang,ketegangan atau konflik social, dan
kekuasaan dalam kelas-kelas penguasa. Dalam perkembangan selanjutnya,pembahasan
tentang masyarakat meningkat pada cakupan yang lebih mendalam yakni menyangkut
susunan kehidupan yang diharapkan dan norma-norma yang harus ditaati oleh
seluruh anggota masyarakat. Sejak itu, berkembanglah suatu kajian baru tentang
masyarakat yang disebut Sosiologi.
Istilah “Sosiologi” pertama kali digunakan oleh Auguste Comte (1798-1857). Comte
menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang gejala social yang tunduk pada hukum
alam dan tidak berubah-ubah. Comte mengusulkan studi sosiologi dalam dua bagian
utama, yakni statika social dan dinamika social. Dalam statika social
berhubungan dengan masyarakat keseluruhan sebagai unit analisis dan menjelaskan
bagaimana mereka berkembang dan berubah melalui
waktu. Auguste Comte, seorang filsuf Prancis. melihat perubahan-perubahan
tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnva demokratisasi dalam
masyarakat. tetapi juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut
adalah terjadinya konflik antarkelas dalam masyarakat. Menurut Comte,
konflik-konflik tersebut terjadi karena hilangnva norma atau pegangan
(normless) bagi masvarakat dalam bertindak. Comte berkaca dari apa yang terjadi
dalam masyarakat Prancis ketika itu (abad ke-19). Setelah pecahnva Revolusi
Prancis, masyarakat Prancis dilanda konflik antarkelas. Comte melihat hat itu
terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan
akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur
tatanan sosial masyarakat.
Oleh karena itu, Comte menyarankan
agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang
berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat
mengatur gejala-gejala sosial. Namun. Comte belum berhasil rnengembangkan
hukum-hukum sosial tersebut menjadi sebuah ilmu. Ia hanya memberi istilah bagi
ilmu yang akan lahir itu dengan istilah sosiologi. Sosiologi baru berkembang
menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim mengembangkan
metodologi sosiologi melalui bukunya Rules Of Sosiological Method. Meskipun
demikian, atas jasanva terhadap lahirnya sosiologi, Auguste Comte tetap
disebut sebagai Bapak Sosiologi.Meskipun Comte mendapatakan istiiah
Sosiologi, Herbert Spencer-lah yang mempopulerkan istilah tersebut
melalui buku Principles of Sociology. Di dalam buku tersebut,
Spencer mengembangkan sistem penelitian tentang masyarakat. Ia menerapkan teori
evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang
evolusi sosial yang diterima secara luas di masyarakat. Menurut Comte, suatu
organ akan lebih sempurna jika organ itu bertambah kompleks karena ada
diferensiasi (proses pembedaan) di dalam bagian-bagiannya.
Sejarah
Perkembangan Sosiologi di Indonesia
sebenarnya telah berkembang
sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagal ilmu
pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah banyak memasukkan
unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka. Sri Paduka
Mangkunegoro IV, misalnva, telah memasukkan unsur tata hubungan
manusia pada berbagai golongan yang berbeda (intergroup relation) dalam
ajaran Wulang Reh. Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara yang
dikenal sebagai peletak dasar pendidikan nasional Indonesia banyak
mempraktikkan konsep-konsep penting sosiologi seperti kepemimpinan dan
kekeluargaan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang didirikannya. Hal yang
sama dapat juga kita selidiki dan berbagai karya tentang Indonesia yang ditulis
oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van
Volenhaven sekitar abad 19. Mereka menggunakan unsur-unsur sosiologi
sebagai kerangka berpikir untuk memahami masyarakat Indonesia. Snouck
Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologis untuk memahami
masyarakat Aceh yang hasilnya dipergunakan oleh pemerintah Belanda untuk
menguasai daerah tersebut.
Dari uraian di atas terlihat bahwa
sejarah sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum Perang Dunia II
hanya dianggap sebagal ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan Iainnya. Dengan
kata lain, sosiologi belum dianggap cukup penting untuk dipelajari dan
digunakan sebagai ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan
yang lain. Secara formal, Sekolah Tinggi Hukum
(Rechtsshogeschool) di Jakarta pada waktu itu menjadi satu-satunya
lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di Indonesia
walaupun hanya sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Namun, seiring
perjalanan waktu, mata kuliah tersebut kemudian ditiadakan dengan alasan bahwa
pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang
terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam pelajaran hukum. Setelah proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang
cukup signifikan. Adalah Soenario Kolopaking yang pertama kali
memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di Akademi
Ilmu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
UGM). Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademisi di
Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat
Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950. Banyak para
pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian
mengajarkan ilmu itu di Indonesia. Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia
pertama kali diterbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan
judul Sosiologi Indonesia .
Referensi: Maryati, Kun. 2001. Sosiologi
untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar